Games & Multimedia

SCIENCE & TECHNOLOGY

Puisi Pagi Alfian

Pagi merayap kelam bertudung abu-abu, selaras hati membiru, berselimut dekapan embun.
Langit pagiku merah saga, di sana engkau bersemayam bersama semua harapan
sejak kepergianmu, Bu. Ayah menjadi buta warna. Haru biru saat ia mengunjungi makammu.
tujuh warna pelangi di langit tetap tak seindah hitam putih sepasang matamu.
Puisi ini, adalah rangkum-rangkum suara yang kian renta memanggilmu.
Pagi digerus hujan tanpa ampun. Nyanyian pipit tak pudar walau ditelan gemericiknya. Sabda alam terangkai syahdu hari ini.
Sesekali kutafsirkan namamu disini, agar kelak mereka pahami, sajak ini lebih pedih dari takdir yang saling memunggungi.
Engkau dan wujud nyatamu, adalah bentuk cinta yang tetap tinggal.
Kehilanganmu, adalah lubuk terdalam dari kesepian.
Engkau menanyakan kabar, aku mempertanyakan hati.
Isi hati kita serupa kuncup bunga yang akan bermekaran saat tertuang menjadi kata-kata cinta
kekasih, mendekatlah! akan kukatakan satu rahasia; yang hanya bisa disampaikan lewat sebuah ciuman.
Pada pagi; kita pernah berbagi tawa. Bibir siapa yang pertama kali mengecap tubir cangkir kopi.
untukmu dik, rindu dilayangkan, ia berupa indah kupu-kupu, penuh kilau warna, penuh riuh cinta
jika dadamu tak sanggup lagi menampung anak-anak rindu, terbangkan mereka lewat doa agar sampai ke ulu hatiku.
awal april ini kekasih, 4 tahun sudah kita menjalin kasih, aku ingin tetap menjadi bumi bagi hatimu hingga ujung waktu
sayang, bagi setengah cangkir kopimu. Bukankah hari yang indah dimulai dengan berbagi
kamu serupa deru petir di laut lepas. melihatmu hanya sekilas, tapi gemamu menggetarkan rindu sampai ke alas.
aku melihat pagi, seperti sayap bidadari. menerbangkan kantuk malam hari, menjelma harapan baru pada secangkir kopi
aku berteduh pada pahitnya kopi, kuseduh dengan hujan berkali-kali. embun pagi pergi, mencoba menyalakan matahari.
Jika pikiran kita cukup damai untuk mendengarkan, maka Hati akan membisikan kasihnya hari ini…
Pagi tiba. Di halaman yang serak daunnya belum kau sapu, kenangan tinggal di situ.
Pelukmu, adalah jawaban terindah dalam bercerita tentang pertanyaan rindu, jarak dan pengobat pilunya.
Pagi ini,kau, aku dan pelukan yg hilang..dikabarkan langit lewan hujan kecilnya
Pagi hampir meninggi..berhenti tidurkan mimpi
Dari kejauhan..sayup2 terdengar beberapa puisi dijeritkan pagi..bunyinya menyerupai letus senapan yg menyudahi mimpi
pagi tak selalu perihal embun di matamu,tengoklah, langkah anak kecil yang memanen mimpi, bernyanyi di merah lampu
Pagi menggeliat, terbangun dari mimpi, embun tersenyum, sekuntum mawar rekah dengan kelopak penuh goresan rindu..
Lazuardi langit pagi tetap menaungi kita, meskipun menyebut Tuhan dengan cara yang berbeda.
Tak ada yang tersisa di pagi buta, selain doa yang tak mengenal jeda.
Adakah yang lebih baik dari puisi pagi nona? Kecuali doa para pujangga -- tentang jiwa yang merindukan cinta.
Kokok ayam dan suara anak-anak mengaji di langgar kampung bersahutan menabuh langit pagi hingga bingar. Damai diam di dada.
Apa kau mengerti pagi, kekasih. Pagi yg senantiasa kembali, membuat segalanya hadir dalam jubah waktu yg benar-benar baru?
Kau dan pagi memasuki kepalaku, melalui pintu-pintu yang ketukannya tak pernah kudengar.
kamu adalah selarik sinar di pagi, hangat namun tak dekat; ada, tapi tak bisa didekap
Ada yang tak dikabarkan pagi kepadamu: daun gugur di depan dermaga tua, dan rinduku padamu yang kian renta..
Nyanyian satwa-satwa pagi masih mengalun lembut, irama eufoni berdendang di melodi paling riang di indra dengarku.
Mata pisau yang tajam ini bersedih, saat hendak kusayat bayangmu.
Ada yang berkecamuk di dahan-dahan pagi; burung-burung genit menyambut mentari; eufoni paling seni.
Padamu: adakah yang lebih menyentuh kepedihanku, selain rindu yang mengembun dari pagi ke pagi.

 
           
Tag : PUISI
3 Komentar untuk "Puisi Pagi Alfian"

Wiisss keren gan puisinya ^_^

Saya minta puisinya sob,, buat tugas Indo,, so puisinya keren..

Back To Top