Pagi merayap kelam bertudung
abu-abu, selaras hati membiru, berselimut dekapan embun.
Langit pagiku merah saga, di sana engkau
bersemayam bersama semua harapan
sejak kepergianmu, Bu. Ayah
menjadi buta warna. Haru biru saat ia mengunjungi makammu.
tujuh warna pelangi di langit tetap tak seindah
hitam putih sepasang matamu.
Puisi ini, adalah
rangkum-rangkum suara yang kian renta memanggilmu.
Pagi digerus hujan tanpa ampun. Nyanyian pipit tak
pudar walau ditelan gemericiknya. Sabda alam terangkai syahdu hari ini.
Sesekali kutafsirkan namamu
disini, agar kelak mereka pahami, sajak ini lebih pedih dari takdir yang saling
memunggungi.
Engkau dan wujud nyatamu, adalah bentuk cinta yang
tetap tinggal.
Kehilanganmu, adalah lubuk
terdalam dari kesepian.
Engkau menanyakan kabar, aku mempertanyakan hati.
Isi hati kita serupa kuncup
bunga yang akan bermekaran saat tertuang menjadi kata-kata cinta
kekasih, mendekatlah! akan kukatakan satu rahasia;
yang hanya bisa disampaikan lewat sebuah ciuman.
Pada pagi; kita pernah berbagi
tawa. Bibir siapa yang pertama kali mengecap tubir cangkir kopi.
untukmu dik, rindu dilayangkan, ia berupa indah
kupu-kupu, penuh kilau warna, penuh riuh cinta
jika dadamu tak sanggup lagi
menampung anak-anak rindu, terbangkan mereka lewat doa agar sampai ke ulu
hatiku.
awal april ini kekasih, 4 tahun sudah kita
menjalin kasih, aku ingin tetap menjadi bumi bagi hatimu hingga ujung waktu
sayang, bagi setengah cangkir
kopimu. Bukankah hari yang indah dimulai dengan berbagi
kamu serupa deru petir di laut lepas. melihatmu
hanya sekilas, tapi gemamu menggetarkan rindu sampai ke alas.
aku melihat pagi, seperti sayap
bidadari. menerbangkan kantuk malam hari, menjelma harapan baru pada secangkir
kopi
aku berteduh pada pahitnya kopi, kuseduh dengan
hujan berkali-kali. embun pagi pergi, mencoba menyalakan matahari.
Jika pikiran kita cukup damai
untuk mendengarkan, maka Hati akan membisikan kasihnya hari ini…
Pagi tiba. Di halaman yang serak daunnya belum kau
sapu, kenangan tinggal di situ.
Pelukmu, adalah jawaban
terindah dalam bercerita tentang pertanyaan rindu, jarak dan pengobat pilunya.
Pagi ini,kau, aku dan pelukan yg hilang..dikabarkan
langit lewan hujan kecilnya
Pagi hampir meninggi..berhenti
tidurkan mimpi
Dari kejauhan..sayup2 terdengar beberapa puisi
dijeritkan pagi..bunyinya menyerupai letus senapan yg menyudahi mimpi
pagi tak selalu perihal embun
di matamu,tengoklah, langkah anak kecil yang memanen mimpi, bernyanyi di merah
lampu
Pagi menggeliat, terbangun dari mimpi, embun
tersenyum, sekuntum mawar rekah dengan kelopak penuh goresan rindu..
Lazuardi langit pagi tetap
menaungi kita, meskipun menyebut Tuhan dengan cara yang berbeda.
Tak ada yang tersisa di pagi buta, selain doa yang
tak mengenal jeda.
Adakah yang lebih baik dari
puisi pagi nona? Kecuali doa para pujangga -- tentang jiwa yang merindukan
cinta.
Kokok ayam dan suara anak-anak mengaji di langgar
kampung bersahutan menabuh langit pagi hingga bingar. Damai diam di dada.
Apa kau mengerti pagi, kekasih.
Pagi yg senantiasa kembali, membuat segalanya hadir dalam jubah waktu yg
benar-benar baru?
Kau dan pagi memasuki kepalaku, melalui
pintu-pintu yang ketukannya tak pernah kudengar.
kamu adalah selarik sinar di
pagi, hangat namun tak dekat; ada, tapi tak bisa didekap
Ada yang tak dikabarkan pagi kepadamu: daun gugur
di depan dermaga tua, dan rinduku padamu yang kian renta..
Nyanyian satwa-satwa pagi masih
mengalun lembut, irama eufoni berdendang di melodi paling riang di indra
dengarku.
Mata pisau yang tajam ini bersedih, saat hendak
kusayat bayangmu.
Ada yang berkecamuk di
dahan-dahan pagi; burung-burung genit menyambut mentari; eufoni paling seni.
Padamu: adakah yang lebih menyentuh kepedihanku,
selain rindu yang mengembun dari pagi ke pagi.
Tag :
PUISI

3 Komentar untuk "Puisi Pagi Alfian"
Wiisss keren gan puisinya ^_^
Saya minta puisinya sob,, buat tugas Indo,, so puisinya keren..
Silakan Gan :)